October 6, 2018 / administrator

CATATAN KEBIJAKAN “TRANSFORMASI STRUKTURAL UNTUK PEKERJAAN YANG LEBIH PRODUKTIF

EMPLOYMENT POLICY FORUM/FORUM KEBIJAKAN KETENAGAKERJAAN

SESI IXTANGGAL 24 07 2018

 

 

  1. KONTEKS

 

“Transformasi struktural untuk pekerjaan yang lebih produktif” adalah forum diskusi tertutup kesembilan yang diselenggarakan oleh Forum Kebijakan Ketenagakerjaan (atau FKK) yang bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi Pemerintah Indonesia. Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia selama ini adalah menyiapkan tenaga kerja kompeten dan menciptakan pekerjaan baru dengan produktivitas tinggi yang cukup untuk menyerap pasokan tenaga kerja berupah rendah, terutama di bidang pertanian dan sektor informal. Namun, transformasi pekerja keluar dari sektor-sektor dengan produktivitas rendah ke sektor-sektor dengan produktivitas tinggi stagnan, terutama di kalangan pekerja yang lebih tua dan kurang berpendidikan. Selanjutnya, fenomena urbanisasi sangat berkorelasi dengan peningkatan standar hidup. Bonus upah dari produktivitas dan pendidikan yang lebih baik di kota-kota besar lebih tinggi karena pekerja yang berpendidikan lebih tinggi dapat menemukan kesempatan yang lebih cocok dengan keterampilan mereka, meskipun bonus produktivitas dari pendidikan yang lebih tinggi tampaknya menghilang di kota-kota metropolitan.

  1. POIN-PON DISKUSI FORUM

Di dalam forum ini, ada dua penelitian yang dipresentasikan untuk memberikan bukti-bukti empiris sebagai basis diskusi forum.  Studi pertama adalah mengenai transformasi struktural pekerja dari sektor dengan produktivitas rendah ke tinggi. Karena secara rata-rata produktivitas di sektor pertanian rendah, penurunan yang cepat dari pangsa PDB pertanian terhadap total PDB merupakan tanda adanya transformasi struktural. Namun, penurunan yang lambat terjadi pada pangsa tenaga kerja pertanian terhadap total tenaga kerja di Indonesia. Hal ini menghambat peningkatan produktivitas nasional dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Faktor yang paling berpengaruh dalam kemungkinan keluar dari pertanian pedesaan dengan produktivitas rendah adalah tingkat pendidikan dan mekanisasi pertanian. Untuk mengurangi dampak mekanisasi pertanian yang tidak diinginkan seperti pengangguran, tanaman dengan nilai tambah yang lebih tinggi dapat menggantikan tanaman pokok dengan nilai tambah yang rendah, serta diversifikasi ekonomi pedesaan ke sektor jasa dan industry dapat dipromosikan.  Studi ini juga menunjukan bahwa mempunyai pekerjaan tambahan di sektor jasa dan industri juga dapat meningkatkan peluang pekerja untuk bekerja di perkotaan.  Sementara itu keterlibatan pemuda pedesaan dan petani progresif bisa menjadi solusi untuk menghasilkan inovasi pedesaan yang dapat meningkatkan produktivitas dan nilai tambah sektor pertanian pedesaan.

Studi kedua adalah mengenai urbanisasi dan peluang untuk bekerja di sektor dengan produktivitas dan upah yang lebih tinggi melalui percepatan urbanisasi yang ditunjang oleh aglomerasi (kepadatan penduduk). Studi ini menunjukan bahwa aglomerasi  berkorelasi positif dengan kehadiran pekerja dengan pendidikan tertiari. Namun tantangan seperti kemacetan, pencemaran lingkungan, dan infrastruktur dan perumahan yang padat telah menghambat peningkatan produktivitas dari urbanisasi, terutama di kota-kota besar. Layanan yang memerlukan keterampilan tinggi terkonsentrasi di pusat kota sementara produksi manufaktur tersebar secara geografis. Layanan yang memerlukan keterampilan rendah berada di dalam dan di sekitar kota-kota besar untuk melayani orang-orang dengan penghasilan tinggi dan untuk mendukung sektor jasa di tingkat atas (high-end services).

Poin-poin berikut adalah poin-poin yang diangkat di forum diskusi:

  • Kegagalan kebijakan di sektor pertanian adalah salah satu faktor pendorong petani keluar dari sektor tersebut (push factor). Jika pemerintah dapat membantu meningkatkan produktivitas di sektor pertanian, akan lebih sedikit urbanisasi. Bahkan, telah terjadi gerakan petani muda di sektor pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah, seperti pertanian organik dan pertanian Fin-Tech. Ada kekhawatiran bahwa Dana Desa belum digunakan secara optimal dalam mengurangi kemiskinan di daerah pedesaan melalui pemberdayaan petani. Dana Desa harus memberikan lebih banyak kesempatan bagi pemuda pedesaan untuk berinovasi.
  • Kurikulum Sekolah Vokasi Pertanian harus direvisi untuk menarik lebih banyak siswa. Pilot projectSMK dalam komoditas tertentu dimulai di beberapa daerah. Misalnya, SMK Kopi didirikan di Sumedang. Lulusan SMK ini juga melakukan transaksi melalui e-commercebahkan di daerah pedesaan.
  • Upah minimum tinggi di kota-kota besar telah menjadi faktor penarik bagi urbanisasi. Karenanya, penentuan upah minimum juga akan memberikan dampak terhadap urbanisasi. Sebenarnya tidak relevan untuk menerapkan upah minimum yang tinggi jika kepatuhannya rendah. Oleh karena itu, data tentang tingkat kepatuhan harus dikumpulkan. Penting juga untuk membandingkan upah dan produktivitas.Statistik setelah tahun 2000 menunjukkan pertumbuhan produktivitas yang moderat dibandingkan dengan pertumbuhan upah minimum.
  • RECOMMENDATION

Meskipun fokus kita adalah pada kualitas pekerjaan dan bukan sektor di mana orang bekerja (pertanian vs. non-pertanian), secara umum peningkatan kualitas pekerjaan pertanian masih terhalang oleh surplus tenaga kerja di sektor pertanian. Akibatnya, rata-rata produktivitas di sektor pertanian masih rendah. Transformasi tenaga kerja yang lebih cepat untuk keluar dari pertanian pedesaan dengan produktivitas rendah adalah suatu keharusan dalam menciptakan kesempatan yang lebih baik untuk pekerja bekerja dengan kualitas yang lebih baik. Perluasan pendidikan di daerah pedesaan sampai tingkat pendidikan menengah ke atas dan investasi dalam mekanisasi pertanian dapat memuluskan transformasi tersebut. Juga, diversifikasi ekonomi pedesaan ke sektor jasa dan industri pedesaan penting untuk mengurangi pengangguran pedesaan sebagai efek yang tidak diinginkan dari mekanisasi. Selain itu, kurikulum sekolah kejuruan pertanian harus direvisi dan diperbarui, termasuk untuk memanfaatkan teknologi dan peluang bisnis dalam E-commerce pedesaan.

  • Pada saat yang sama, regulatory environment– misalnya membatasi upah minimum, persaingan yang sehat – akan mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak di industri manufaktur dan sektor jasa dengan produktivitas dan nilai tambah tinggi, seperti sektor keuangan, bisnis dan ICT.
  • Seiring dengan peningkatan produktivitas dan upah yang lebih tinggi melalui urbanisasi di kota-kota yang berukuran sedang, Indonesia harus menjaga kota-kota berukuran sedang yang dinamis dan tersebar di seluruh negeri untuk menurunkan tekanan terhadap arus besar urbanisasi ke kota-kota metropolitan besar.
  • Dana Desa diharapkan dapat membantu membangun sektor pertanian dan mengurangi kemiskinan serta ketimpangan. Saat ini, penggunaan Dana Desa sebagian besar digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa. Penggunaan dana untuk pemberdayaan masyarakat perlu ditingkatkan. Pendekatan pemberdayaan pedesaan biasanya didasarkan pada sisi penawaran, SMERU merekomendasikan pemberdayaan berbasis permintaan di mana pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pedesaan. Dengan pendekatan PKKPM (Program Peningkatan Kesejahteraan Keluarga melalui Pemberdayaan Masyarakat), fasilitator dapat membantu masyarakat pedesaan untuk mengidentifikasikan keterampilan yang benar-benar mereka butuhkan untuk meningkatkan pendapatan mereka.